TEHERAN - Pusat komando utama angkatan bersenjata
Iran mengatakan kehendak bangsa Iran telah berhasil dipaksakan kepada musuh. Itu diwujudkan dalam 14 poin persyaratan yang disampaikan Iran kepada AS.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Senin pagi, Markas Besar Khatam al-Anbiya memuji rakyat Republik Islam Iran yang tangguh atas kemenangan gemilang mereka.
Pernyataan itu juga memuji mereka yang bertugas di angkatan bersenjata, serta front perlawanan, atas "tekad yang tak tergoyahkan" mereka selama lebih dari 100 hari perang.
"Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan di bawah komando Pemimpin Revolusi Islam, rakyat Iran dan para pejuangnya telah membuktikan bahwa musuh-musuh Amerika dan Zionis yang hina tidak punya pilihan selain menerima kekalahan dan menyerah," demikian pernyataan tersebut, dilansir
Press TV.
Pusat komando militer tertinggi lebih lanjut menekankan bahwa "kemauan Ilahi dan sekuat baja" bangsa Iran kini berdiri sebagai "penghalang yang tak tergoyahkan" terhadap segala bentuk agresi, menunjukkan bahwa jalan perlawanan tetap menjadi satu-satunya jalan menuju kemenangan.
Pernyataan tersebut disampaikan tak lama setelah Kementerian Luar Negeri Iran mengumumkan bahwa nota kesepahaman (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat telah diselesaikan dan akan ditandatangani secara resmi pada hari Jumat di Swiss.
Dalam pernyataan yang dimuat oleh media lokal pada Senin dini hari, Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi mengkonfirmasi bahwa teks MoU Islamabad telah diselesaikan.
"Penandatanganan resmi nota kesepahaman Islamabad akan berlangsung pada hari Jumat di Swiss," katanya.
"Mulai malam ini, blokade angkatan laut AS terhadap Iran akan diakhiri," tambah Gharibabadi, seraya menyatakan "pengakhiran segera dan permanen perang dan operasi militer di berbagai front, termasuk Lebanon."
Sebelumnya, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang negaranya telah menjadi mediator dalam pembicaraan tersebut, mengumumkan bahwa "kesepakatan damai" antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah tercapai setelah "negosiasi intensif."
Sharif menyatakan bahwa berdasarkan kesepakatan tersebut, kedua belah pihak telah menyatakan pengakhiran segera dan permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon.
Kesepakatan ini terjadi hampir 110 hari setelah koalisi AS-Israel melancarkan perang agresi yang tidak beralasan dan ilegal terhadap Republik Islam. Meskipun gencatan senjata pada awal April, para agresor terus melakukan terorisme maritim serta serangan terhadap Lebanon.
Iran tetap berpendapat bahwa perjanjian pengakhiran perang harus mencakup semua front dan juga harus mengamankan kepentingan nasional.
(ahm)