LOS ANGELES - Ketika lagu kebangsaan Iran berkumandang di Stadion SoFi, Los Angeles, Selasa (16/6/2026), sesaat sebelum laga melawan Selandia Baru dimulai, suara cemoohan langsung menggema dari berbagai sudut tribun. Sorakan itu terus terdengar, menciptakan suasana yang jauh dari nuansa perayaan sepak bola.
Pertandingan Grup G
Piala Dunia 2026 tersebut memang tidak pernah menjadi sekadar duel 90 menit di atas lapangan. Laga Iran versus Selandia Baru yang berakhir imbang 2-2, berlangsung di tengah atmosfer politik yang masih panas.
Meski beberapa jam sebelumnya Iran dan Amerika Serikat dikabarkan telah mencapai kesepakatan perdamaian sementara. Di luar stadion, ratusan warga Iran-Amerika menggelar aksi protes terhadap pemerintahan di Teheran.
Baca Juga: Iran Bangkit Dua Kali, Imbangi Selandia Baru 2-2 di Piala Dunia 2026 Sebagian membawa bendera Iran era pra-revolusi dan poster-poster bernada penolakan. Sementara di dalam stadion, ribuan pendukung lainnya memilih mengesampingkan politik dan tetap memberikan dukungan kepada Tim Melli.
Mengutip video viral yang diunggah @DanielNMiller, momen lagu kebangsaan pun menjadi simbol dari perpecahan tersebut. Bagi sebagian penonton, cemoohan itu merupakan bentuk protes terhadap pemerintah Iran.
Baca Juga: Kisah Vozinha: Kiper Cape Verde yang Menulis Sejarah di Piala Dunia 2026 Namun bagi yang lain, sepak bola seharusnya menjadi ruang yang mempersatukan, bukan memperlebar jurang perbedaan. Piala Dunia 2026 kembali mengingatkan bahwa sepak bola tidak selalu berdiri sendiri. Di tengah gegap gempita turnamen terbesar di dunia, terkadang ada cerita yang lebih besar dari sekadar gol dan hasil akhir—tentang identitas, politik, dan kerinduan sebuah bangsa untuk menemukan titik temu di tengah perbedaan.
(yov)