LOS ANGELES - Apa yang sebenarnya dirasakan para pemain Iran ketika melangkah ke lapangan Stadion SoFi, Los Angeles, Selasa (16/6/2026), untuk menghadapi Selandia Baru di
Piala Dunia 2026 ? Hanya beberapa jam sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang berada di Prancis menjelang KTT G7, mengumumkan bahwa kesepakatan perdamaian sementara antara Washington dan Teheran telah tercapai.
Di tengah kabar tersebut, Iran tetap datang ke stadion dengan membawa beban yang jauh lebih besar daripada sekadar pertandingan sepak bola. Bahkan Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang menyaksikan laga dari kursi VIP, tampak tak berdaya menghadapi situasi politik yang terus membayangi keikutsertaan Iran di Piala Dunia 2026.
Namun setidaknya selama 90 menit lebih di Los Angeles, Tim Melli berhasil melakukan apa yang dijanjikan pelatih Amir Ghalenoei, fokus pada sepak bola. Iran dua kali bangkit dari ketertinggalan sebelum akhirnya bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru.
Baca Juga: Miris, Lagu Kebangsaan Iran Dicemooh di Piala Dunia 2026 Gol Mohammad Mohebbi dan Ramin Rezaeian membalas dua gol Elijah Just yang sempat membawa All Whites unggul. Di tengah segala tekanan yang mengiringi perjalanan mereka, dukungan ribuan penonton di stadion menjadi suntikan semangat tersendiri bagi Iran.
Kapten Mehdi Taremi mengakui bahwa kegembiraan seperti itu sudah lama tidak dirasakan timnya. Pemandangan perbukitan Hollywood yang terlihat dari Stadion SoFi seolah menjadi kontras dengan perjalanan berliku yang harus ditempuh Iran demi tampil di Piala Dunia 2026.
Turnamen ini bahkan disebut sebagai salah satu ajang olahraga paling sarat muatan politik dalam sejarah. Iran harus mengatasi berbagai hambatan sebelum akhirnya bisa bermain di Los Angeles.
Baca Juga: Kisah Vozinha: Kiper Cape Verde yang Menulis Sejarah di Piala Dunia 2026 Sebelas pejabat negara itu ditolak masuk ke Amerika Serikat. Situasi tersebut memaksa Tim Melli memindahkan markasnya dari Arizona ke Tijuana, Meksiko. Program latihan mereka pun sempat terganggu.
Di luar lapangan, persoalan lain juga menunggu.
Los Angeles merupakan rumah bagi ratusan ribu warga keturunan Iran dan dikenal dengan julukan "Tehrangeles", komunitas diaspora Iran terbesar di luar negeri. Namun, mereka tidak memiliki pandangan yang sama terhadap pemerintahan di Teheran.
Sebagian kelompok menggelar aksi protes di luar hotel tim dan stadion. Mereka membawa bendera Iran era pra-revolusi, poster bergambar Shah Persia terakhir, serta berbagai simbol penolakan terhadap Republik Islam Iran.
Meski FIFA melarang simbol yang bersifat politik, ofensif, dan diskriminatif, sejumlah bendera dan atribut tersebut tetap terlihat di sekitar stadion. Bahkan Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, sempat memperingatkan bahwa timnya akan meninggalkan pertandingan apabila terdengar slogan-slogan politik yang menyerang tim nasional.
Di tengah konflik politik, penolakan, dan perpecahan yang mengiringi perjalanan mereka menuju Piala Dunia 2026, Iran setidaknya berhasil menemukan satu hal yang sempat hilang dalam beberapa bulan terakhir: kegembiraan bermain sepak bola.
(yov)