JAKARTA - Universitas Negeri Jakarta (
UNJ ) bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi meluncurkan “Gerakan
Air Bersih untuk Jakarta” melalui peresmian sistem pengolahan air siap minum di Masjid Ash Shalihin, Koja, Jakarta Utara, pada 16 Juni 2026.
Program Community Development ini didukung melalui pendanaan hibah EQUITY yang didanai melalui Dana Abadi Perguruan Tinggi (DAPT) oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini menjadi langkah konkret dalam memperluas akses air minum layak sekaligus memperkuat peran masjid sebagai pusat pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
Baca juga: Pertamina Hulu Rokan Buka Magang Kerja 2026 untuk Lulusan D3-S1, Cek Syaratnya Peresmian berlangsung dalam suasana khidmat dan dihadiri oleh Asisten Kesejahteraan Rakyat (Kesra) yang mewakili Wakil Gubernur DKI Jakarta, KH. Makmun Al Ayubi mewakili Ketua Umum DMI, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNJ Prof. Iwan Sugihartono mewakili Rektor UNJ, dan pejabat serta tokoh masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, perwakilan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang berhasil menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat.
“Peresmian ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar warga. Semoga inisiatif ini menjadi inspirasi bagi masjid-masjid lain untuk turut menghadirkan layanan air bersih bagi masyarakat,” ujarnya, melalui siaran pers, Selasa (16/6/2026).
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi keagamaan, pemerintah, dan masyarakat dalam menjawab tantangan akses air bersih, khususnya di kawasan pesisir Jakarta Utara.
Dalam implementasinya, UNJ berperan sebagai mitra akademik yang melakukan riset, pendampingan teknis, pelatihan masyarakat, serta pemantauan kualitas air guna memastikan keberlanjutan program.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNJ, Rafiuddin Syam, menjelaskan bahwa gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap masih terbatasnya akses masyarakat terhadap air minum yang aman dan terjangkau.
“Melalui teknologi filtrasi modern, air dapat diolah menjadi air siap minum yang memenuhi standar kesehatan. Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga mudah direplikasi dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Rafiuddin Syam yang juga dosen Fakultas Teknik UNJ.
Sistem yang dipasang di Masjid Ash Shalihin menggunakan teknologi Reverse Osmosis (RO) berkapasitas 4.000 GPD atau sekitar 15.000 liter per hari, yang didukung tiga tangki Fiber Reinforced Plastic (FRP) antikarat.
Teknologi ini mampu menyaring hingga 99 persen kontaminan dan menghasilkan air dengan kadar Total Dissolved Solids (TDS) di bawah 100 mg/L, jauh di bawah ambang batas maksimal yang direkomendasikan untuk air minum.
Dengan kapasitas tersebut, satu unit instalasi mampu melayani kebutuhan air minum sekitar 2.000 orang setiap hari. Apabila model ini diterapkan pada seluruh 615 masjid di Jakarta Utara, manfaatnya berpotensi menjangkau lebih dari 1,23 juta warga atau sekitar 68 persen dari total populasi wilayah tersebut.
“Gerakan Air Bersih untuk Jakarta kita mulai dari masjid. Ke depan, kami berharap program ini dapat diperluas ke ratusan masjid lainnya dan menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota yang ramah air bersih,” tegas Rafiuddin.
Selain berdampak sosial, program ini juga menawarkan efisiensi anggaran yang tinggi. Dengan biaya pemasangan sekitar Rp30 juta per unit, kebutuhan investasi untuk 615 masjid diperkirakan mencapai Rp18,45 miliar. Nilai tersebut relatif kecil dibandingkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat secara luas.
Ketua DKM Masjid Ash Shalihin, H. Sodikin, menyambut baik kehadiran program tersebut. Menurutnya, instalasi air minum siap konsumsi memberikan manfaat langsung bagi jamaah dan warga sekitar.
“Selama ini masyarakat sering mengeluhkan kualitas air. Dengan adanya sistem ini, jamaah dapat memperoleh air minum yang sehat dan aman, sekaligus membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga,” ungkapnya.
Sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 6, yaitu menjamin ketersediaan dan pengelolaan air bersih yang berkelanjutan bagi semua, program ini juga menitikberatkan pada aspek pemberdayaan masyarakat. Sebanyak 15 remaja masjid telah dilatih sebagai operator dan pengelola sistem sehingga keberlanjutan layanan dapat dijaga secara mandiri oleh komunitas setempat.
Ke depan, program akan dikembangkan melalui integrasi energi terbarukan berbasis panel surya dan direplikasi di sejumlah masjid lain di DKI Jakarta. Langkah ini diharapkan dapat memperluas manfaat program sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadirkan inovasi yang berdampak nyata.
Mewakili Rektor UNJ, Prof. Iwan Sugihartono selaku Ketua LPPM UNJ menegaskan bahwa keterlibatan UNJ dalam program ini merupakan wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“UNJ hadir tidak hanya sebagai institusi pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang berkomitmen menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial dan lingkungan. Program ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi instrumen penting untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tuturnya.
(nnz)