JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS),
Donald Trump mengklaim langkah taktis kesepakatan damai antara
AS dan Iran berhasil menyelamatkan dunia dari jurang
bencana ekonomi . Seperti diketahui perang yang pecah sejak 28 Februari 2026 lewat serangan gabungan AS-Israel ke Iran telah mencekik ekonomi dunia.
Konflik itu meluas hingga sempat melambungkan harga energi, memicu inflasi global, dan mengancam terjadinya krisis pasokan pangan akut di berbagai negara berkembang.
"Jadi satu hal yang paling tidak ingin saya lihat adalah bencana ekonomi. Jika perang ini terus berlanjut, hal itu pasti terjadi," cetus Trump.
Selain itu Ia mengucapkan terima kasih kepada Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang memilih bersikap 'netral' selama konflik berkecamuk. Namun bukan Trump namanya, jika tidak melontarkan pernyataan kontroversial.
Baca Juga: Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
Sambil memuji keberhasilan gencatan senjata, Trump memberikan ultimatum bahwa militer AS siap meluncurkan hujan bom baru kapan saja jika Teheran kedapatan melanggar komitmen mereka. Seperti diketahui
"Kami akan membom habis-habisan mereka (Iran) jika mereka melanggar perjanjian ini. Saya tidak ingin itu terjadi, saya ingin mereka menghormati kesepakatan," ancam Trump dengan nada tinggi dalam konferensi pers penutupan KTT G7 di Prancis.
Bahkan sebelumnya, dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, Trump memperingatkan, "Jika saya tidak menyukainya, jika Iran tidak berperilaku baik, kami akan langsung kembali menjatuhkan bom tepat di atas kepala mereka, oke?"
Harga Minyak Dunia Naik-Turun bak Roller Coaster
Dinamika psikologi pasar langsung merespons pernyataan Trump secara instan. Pada perdagangan Rabu lalu, harga minyak mentah jenis Brent sempat anjlok drastis ke bawah level USD80 per barel, untuk menyentuh titik terendah sejak perang meletus karena prospek cerah dibukanya kembali Selat Hormuz.
Baca Juga: 62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia
Namun, tak lama setelah Trump berpidato dan mengancam akan memulai kembali perang jika ia merasa tidak puas, harga minyak dunia mendadak langsung melesat naik lagi lebih dari 1% dalam hitungan jam akibat kepanikan pasar.
Bocoran 14 Poin Draf Damai: Benarkah Trump Sebenarnya Kalah?
Berdasarkan bocoran dokumen Nota Kesepahaman (MoU) yang diperoleh media, draf perdamaian 14 poin ini memperpanjang masa gencatan senjata hingga 60 hari ke depan guna merumuskan perdamaian permanen. Rencananya, seremoni penandatanganan resmi secara fisik akan digelar di perbatasan Swiss.
Isi draf kesepakatan darurat tersebut meliputi penghentian perang total di semua lini, termasuk di Lebanon. Pembukaan penuh lalu lintas maritim di Selat Hormuz dan pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh AS.
Penghapusan sanksi internasional terhadap Teheran serta kucuran dana bantuan rehabilitasi ekonomi senilai USD300 miliar (sekitar Rp4.900 triliun) untuk Iran. Serta komitmen Iran untuk tidak membuat senjata nuklir.
Meskipun para pemimpin G7 menyambut baik kesepakatan ini demi stabilitas inflasi, para pengamat menilai Trump sebenarnya gagal mencapai target utama perang. Pemerintahan teokrasi Iran terbukti tetap berdiri kokoh, stok uranium yang diperkaya tinggi milik mereka belum diserahkan.
Ditambah kemampuan rudal balistiknya tidak hancur, dan pengaruh Teheran terhadap milisi anti-Israel seperti Hizbullah di Lebanon tetap tidak berkurang.
Di sisi lain, di balik klaim kemenangan diplomatik para elite politik di Teheran, kondisi psikologis masyarakat akar rumput di Iran justru berada di titik nadir. Setelah berbulan-bulan dihantam kecemasan perang dan inflasi, warga sipil mengaku frustrasi.
"Saya pikir 99% masyarakat di sini berada dalam survival mode (mode bertahan hidup) dan hanya hidup dari hari ke hari. Tidak ada lagi yang punya harapan atau bayangan tentang seperti apa masa depan nanti," ungkap Amir (34), salah seorang warga di kota Isfahan.
(akr)