JAKARTA - Misteri di balik rincian draf perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan
Iran diungkap oleh sumber terkait, yang membeberkan adanya kesepakatan rahasia mengenai pembentukan
dana investasi swasta berskala raksasa. Laporan investigasi mengulik nilai investasi swasta sangat fantastis yakni menyentuh USD300 miliar atau setara dengan Rp5.323 triliun (dengan kurs Rp17.744 per USD).
Lebih mengejutkannya lagi, seorang sumber internal seperti dilansir Reuters yang mengetahui jalannya negosiasi membocorkan bahwa lebih dari setengah dari total dana tersebut ternyata sudah berkomitmen dan siap dikucurkan.
Baca Juga: Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Kembali Melonjak
Dana yang akan dinamakan Reconstruction and Development Fund (Dana Rekonstruksi dan Pembangunan) ini sengaja dirancang sebagai 'umpan ekonomi' agar kedua belah pihak berkomitmen penuh menyudahi
perang AS-Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 lalu.
AS Ogah Ikut Menyumbang
Pengungkapan ini langsung memicu ketegangan politik baru di Washington. Presiden AS, Donald Trump saat menghadiri KTT G7 di Prancis, langsung bereaksi keras dan menolak mentah-mentah jika dana ini disebut sebagai investasi pemerintahan AS.
"Kami tidak berinvestasi, kami tidak akan mengeluarkan uang 10 sen pun!" tegas Trump di sela-sela KTT G7.
Baca Juga: 62 Juta Barel Minyak dari Selat Hormuz Siap Banjiri Kilang Asia Trump juga menekankan dirinya tidak meminta negara-negara Arab di Teluk untuk ikut mendanai dalam waktu dekat sampai Iran benar-benar membuktikan perubahan perilakunya. "Ini soal perilaku," cetusnya ketus.
Pernyataan Trump ini sempat membingungkan publik karena berbeda dengan klaim Wakil Presiden JD Vance sebelumnya. Dalam wawancara bersama CBS, Vance sempat menyatakan bahwa Iran akan mendapatkan akses ke dana rekonstruksi Rp5.323 triliun yang disokong oleh negara-negara Teluk jika Teheran mematuhi semua syarat, termasuk membongkar total program nuklir mereka.
Fakta di Balik Layar: Iran Gagal Minta Ganti Rugi Perang
Sementara itu sumber senior dari diplomat Iran membongkar bahwa Teheran awalnya menuntut USD400 miliar (sekitar Rp6.500 triliun) sebagai uang ganti rugi kerusakan perang dari Amerika Serikat akibat serangan udara gabungan ke wilayah mereka. Namun, Washington menolak keras tuntutan tersebut.
Sebagai jalan tengah, muncul ide wadah investasi swasta murni ini. Wadah keuangan ini sama sekali tidak menggunakan uang pajak pemerintah AS maupun dana hibah.
Sebaliknya korporasi swasta dari Amerika Serikat, negara Teluk, Amerika Selatan, Afrika, hingga raksasa ekonomi Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Malaysia dilaporkan telah sepakat mengunci komitmen pendanaan mereka.
Dana raksasa ini nantinya akan dialokasikan untuk membiayai proyek-proyek vital yang hancur akibat bom, seperti kompleks baja Mobarakeh, kilang-kilang minyak utama, bandara, serta jalur logistik.
Iran sendiri merupakan salah satu raksasa ekonomi Timur Tengah yang memiliki cadangan gas alam terbesar kedua di dunia dan cadangan minyak terbesar keempat di bumi. Namun selama 40 tahun terakhir, populasi berpendidikan tinggi sebanyak 92 juta jiwa di Iran nyaris tidak pernah mencicipi investasi asing akibat isolasi sanksi Barat.
Menanti 60 Hari yang Penuh Pertaruhan
Secara psikologis, para pelaku pasar finansial dunia kini menahan napas. Perlu dicatat, dana Rp5.323 triliun ini tidak akan cair atau beroperasi sampai kesepakatan damai final dan mengikat benar-benar ditandatangani.
Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) merupakan garis start dari garis waktu 60 hari negosiasi yang super ketat. Selama 60 hari tersebut, para administrator dana bersama investor dunia akan memetakan proyek di Iran, sembari mengawasi apakah Iran benar-benar memusnahkan stok uraniumnya dan menerima inspeksi ketat dari badan atom PBB. Jika salah satu pihak berkhianat, kesepakatan raksasa ini otomatis akan gugur menjadi kertas tak berharga.
(akr)