JAKARTA - Rumah Sakit Pelni
(IHC RS Pelni) menggandeng Imperial College London (ICL) menggelar program pelatihan internasional terkait digital health, Artificial Intelligence (AI), tata kelola rumah sakit, hingga pengembangan sistem kesehatan berbasis nilai. Hal ini dilakukan sebagai upaya penguatan kapasitas rumah sakit dalam pengembangan layanan kesehatan modern.
Direktur Utama PT RS Pelni, dr Otto Berhen Kawanda mengatakan, kolaborasi internasional memiliki peran penting dalam mempercepat transfer pengetahuan dan memperluas perspektif pengelolaan layanan kesehatan di Indonesia. Melalui ICL Management Training 2026 kolaborasi dengan institusi bertaraf internasional menjadi kesempatan berharga untuk memperluas wawasan dan mempercepat transfer pengetahuan bagi para pengelola rumah sakit di Indonesia.
Baca juga: Prabowo Resmikan RSUD KH Muhammad Thohir Krui, Komitmen Ingin Memodernisasi RS dalam 3 Tahun "Kami berharap forum ini dapat menjadi ruang pembelajaran yang mendorong lahirnya berbagai inovasi dan praktik terbaik dalam pengelolaan layanan kesehatan," ujarnya, Selasa (23/6/2026).
Perkembangan teknologi kesehatan yang berlangsung sangat cepat menuntut rumah sakit untuk tidak hanya berinvestasi pada teknologi, tetapi juga membangun kesiapan organisasi, kepemimpinan, dan tata kelola yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan inovasi tersebut.
"Dalam konteks tersebut, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor kunci dalam mewujudkan transformasi layanan kesehatan yang berkelanjutan," katanya.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta memperoleh pembekalan dari akademisi dan praktisi Imperial College London mengenai berbagai topik strategis, mulai dari health systems, health economics, quality improvement, digital health, pemanfaatan AI dalam sistem kesehatan, hingga implementasi value-based care.
Baca juga: Kisah Penipu Paling Setia: Palsukan Slip Pembayaran RS hingga 4 Tahun demi Selamatkan Nyawa Istri Program juga dikemas melalui sesi diskusi, workshop, studi kasus, serta kunjungan ke fasilitas layanan kesehatan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penerapan teknologi dan tata kelola rumah sakit di lapangan.
Adapun beberapa peserta perwakilan dari Pemerintah dihadiri oleh Direktur Fasilitas dan Mutu Pelayanan Kesehatan Primer, Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Rujukan dan Kepala Pusat Kebijakan Sistem Sumber Daya Kesehatan di BKPK.
Sementara dari beberapa Pimpinan Rumah Sakit dihadiri dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, RS Umum Pusat Dr Wahidin Sudirohusodo, RSUP Prof Ngoerah, RSUP Ben Mboi Kupang, RSUD Ulin Banjarmasin, RS Universitas Hasanudin, Awal Bros Hospital Group, EMC Hospital Group, Mitra Plumbon Hospital Group, Metro Hospital Group, Primaya Hospital Group dan Sentra Medika Hospital Group.
Kehadiran Imperial College London sebagai salah satu institusi pendidikan dan riset terkemuka dunia di bidang kesehatan, sains, dan teknologi memberikan nilai tambah tersendiri dalam program ini. Melalui pertukaran wawasan dan pengalaman internasional, peserta diharapkan mampu mengidentifikasi peluang inovasi yang dapat diterapkan dalam pengembangan layanan kesehatan di Indonesia.
Menurut Otto, transformasi yang dilakukan rumah sakit pada akhirnya harus mampu memberikan manfaat nyata bagi pasien dan masyarakat.
"Tujuan setiap transformasi yang dilakukan rumah sakit adalah menghadirkan layanan yang lebih baik bagi pasien. Teknologi, digitalisasi, maupun artificial intelligence harus menjadi enabler yang membantu tenaga kesehatan bekerja lebih efektif, meningkatkan kualitas layanan, dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi masyarakat," ucapnya.
(shf)