JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menyoroti wacana Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin (BGS) yang mengusulkan penderita
TBC dimasukkan menjadi penerima Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut dia, wacana itu tak masuk akal.
Charles setuju dengan intervensi gizi untuk masyarakat rentan, termasuk penderita TBC. Namun, pemberian MBG untuk penderita TBC perlu dikaji lagi lantaran tak efektif.
Baca juga: Menkes Tegaskan Indonesia Bukan Kelinci Percobaan Vaksin TBC "Secara teknis saya rasa ini akan sangat sulit karena belum tentu di dekat tempat penderita TBC tinggal ada dapur SPPG. Sehingga mungkin ada cara-cara lain yang lebih tepat untuk bisa melakukan intervensi gizi kepada penderita TBC," ujar Charles di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (24/6/2026).
Menurut dia, perlunya pemanfaatan puskesmas di setiap kecamatan dan kelurahan untuk mengatasi TBC. Dengan begitu, dia meyakini akan lebih efektif penanganan TBC.
"Jangan semua-semua MBG. Kita kan sudah punya puskesmas hampir di setiap kelurahan atau kecamatan, sehingga mungkin teman-teman tenaga kesehatan dan tenaga medis di kecamatan lebih bisa mengetahui apa yang dibutuhkan pasien penderita TBC. Jadi nggak perlu harus program MBG untuk memberikan makan kepada penderita TBC," ucapnya.
Charles menyarankan Kemenkes berkoordinasi dengan dinkes di daerah. Hal itu untuk memanfaatkan puskesmas guna membantu penderita TBC.
Dia menilai pemberian MBG pada penderita TBC sangat tidak realistis. "TBC adalah penyakit yang sangat menular, sehingga ompreng yang dipakai itu apakah nanti dikembalikan ke SPPG dan digunakan kembali gitu atau nanti malah bisa menularkan kepada penerima manfaat lainnya yang bukan penderita TBC," ungkap Charles.
"Jadi ini wacana yang menurut saya tidak masuk akal dan mudah-mudahan Pak Menkes hanya becanda ketika menyampaikan wacana ini," sambungnya.
Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengusulkan agar penderita TBC dimasukkan sebagai kelompok prioritas penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan ini diajukan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang guna mempercepat pemulihan pasien dan menekan angka kematian akibat TBC di Indonesia.
(jon)