floating-Pasta Gigi bukan Penangkal...
Pasta Gigi bukan Penangkal Tepat Paparan Gas Air Mata
Pasta Gigi bukan Penangkal...
Pasta Gigi bukan Penangkal Tepat Paparan Gas Air Mata
Jum'at, 09 Oktober 2020 - 00:02 WIB
JAKARTA - Dalam sebuah kericuhan, pihak berwenang sering kali menembakan gas air mata untuk membubarkannya. Di saat situasi tersebut, pasta gigi dipercaya sebagai alat penangkal paparan gas air mata.

BACA JUGA - Tidak Bisa Ngeles Lagi, PCX 150 4-Valve Ketangkap Basah di Jalan


Saat menghadapi g as air mata biasanya pasta gigi digunakan dengan mengoleskannya di bawah mata. Hal ini diyakini dapat mencegah dan mengurangi rasa perih akibat gas air mata.

Meski begitu, sudah sering kali para dokter mata menjelaskan bahwa upaya tersebut hanys mitos. Pasta gigi tidak bisa menghalau gas air mata menimbulkan iritasi, tapi bisa digunakan untuk mendinginkan kelopak mata.

BACA JUGA - Giliran Isuzu X-Series Bikin Panas Dingin Hilux dan Triton

Bahkan, dilansir dari berbagai sumber, pasta gigi bisa sangat berbahaya jika masuk ke mata. Sebab, gas air mata bekerja karena terhirup, bukan terjadi kontak langsung dengan mata.

BACA JUGA- Industri Otomotif Sekarat Akibat Corona, Honda Turunkan Harga Motor

Untuk mengurangi efek paparan gas air mata bisa dengan menyiramkan air bersih ke mata dan wajah. Jika sakit berlanjut dan semakin parah, harus segera diperiksakan ke medis.

Namun, agar lebih aman dari paparan gas air mata , lebih baik menggunakan masker pelindung yang memang diperuntukan menghindari paparan zat kimia serupa.
(wbs)
Baca Berita
Dengarkan Selanjutnya :
Aktivis Muda Nasional:...
Aktivis Muda Nasional: Persatuan Bangsa Penting di Tengah Tantangan Global
DPR Tunggu Hasil Pembahasan...
DPR Tunggu Hasil Pembahasan Tim Perumus Buruh dan Apindo untuk RUU Ciptaker
Skandal Riset Palsu...
Skandal Riset Palsu Internasional, Mendiktisaintek Ungkap 4 Terduga Pelaku Lulusan UNY
Jadi Sekolah Unggulan,...
Jadi Sekolah Unggulan, SMA Al Hikmah Surabaya Bangun Pembelajaran Berbasis Riset-Karakter
Kasus Riset Palsu Demi...
Kasus Riset Palsu Demi Plesiran, Mendiktisaintek Ungkap Temuan Awal