BOYOLALI - Jalur evakuasi erupsi Gunung
Merapi , di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten
Boyolali , sempit di dua titik. Jalur menyempit di jembatan gantung penghubung Dukuh Takeran dan Dukuh Belang, serta tikungan setelah jembatan menuju desa penyangga di Kabupaten
Magelang .
(Baca juga: 4 Penambang Emas Tradisional di Gunung Mas Kalteng Tewas Tertimbun Longsor )Kepala Desa (Kades) Tlogolele, Ngadi mengatakan, kedua titik jalur evakuasi di wilayahnya ini tergolong rawan. Jembatan gantung antara Dukuh Belang dan Dukuh Takeran cukup sempit. "Jembatan permanen kena erupsi
Merapi tahun 2010 lalu, sampai kini belum terealisasi," kata Ngadi, Minggu (15/11/2020).
Jalur evakuasi yang menyempit lainnya berada di dekat tempat penampungan pengungsi sementara (TPPS) Desa Tlogolele. Jalan ini menuju desa penyangga saat warga Desa Tlogolele perlu dievakuasi ke sister village di Kabupaten Magelang.
(Baca juga: Pastikan Kemenangan Eri-Armudji, Cucu Bung Karno Blusukan Kampung di Surabaya )"Jalannnya juga sempit, dipakai papasan kendaraan angkutan tidak bisa," terangnya. Saat erupsi
Merapi dalam skala besar, warga Desa Tlogolele, diungsikan ke Desa Mertoyudan, dan Desa Bumirejo, di Kabupaten
Magelang .
(Baca juga: Bio Farma Pastikan Uji Klinis Sinovac di Brazil Dilanjutkan )Sekretaris Desa (Sekdes) Tlogolele, Neigen Achtah Nur Edy Saputra melanjutkan, pihaknya sudah mengusulkan ke Pemprov
Jawa Tengah terkait perbaikan jalur evakuasi yang menyempit di dua titik. Hanya saja diakui, perbaikan tidak bisa dilaksanakan saat ini mengingat
Merapi telah berstatus siaga. Jalur di jembatan gantung di Dukuh Takeran dan Dukuh Belang posisinya sangat menikung.
Sehingga posisinya cukup bahaya karena licin. Masyarakat mengusulkan agar dibuat jembatan permanen di bawahnya agar jalur menjadi lurus dan mudah dalam evakuasi. "Dari Propinsi sudah merespon dan datang ke lokasi, termasuk mengecek jalur evakuasi," terang Neigen.
(Baca juga: Taman Anggrek di Denpasar, Hadirkan Pesona Khas Nusantara )(eyt)