JAKARTA - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan,
pemadaman listrik bergilir hingga Maret 2021 karena kurangnya pasokan
batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Baca Juga: DMO Batu Bara Diterapkan, Mustahil Pemadaman Listrik Bergilir Hal ini karena semua pengusaha batu bara sudah menyatakan komitmennya untuk memasok batu bara ke PLN sesuai dengan target Domestic Market Obligation (DMO) yang mewajibkan secara tahunan untuk mengalokasikan 25% dari produksinya untuk pasar dalam negeri.
"Pemadaman tidak akan terjadi dalam waktu dekat karena memang cuaca buruk terjadi di Kalimantan Selatan. Sementara batu bara itu tersebar di Kalimantan Timur, juga Sumatera dan Jawa. Sehingga perkiraan pemadaman bergilir nanti tidak akan terjadi dalam waktu dekat," ujarnya pada Market Review IDX Channel, Rabu (3/2/2021).
Namun, Fahmy menuturkan, meski semua pengusaha batu bara sudah menyatakan komitmen untuk memasok batu bara ke PLN sesuai target DMO, namun kadang justru dilemahkan oleh kebijakan Kementerian ESDM yang tidak konsisten seperti membebaskan denda bagi pengusaha yang tidak memenuhi target pasokan batu bara ke PLN.
"Selama tiga tahun terakhir, pasokan batu bara ke PLN cenderung di bawah target DMO ditetapkan. Namun, tidak tercapainya target pasokan itu tidak pernah menjadi masalah yang berarti bagi PLN dalam mengoperasikan PLTU. Saya kira butuh pengawasan yang serius karena PLN tidak bisa mengantisipasi pasokan batu bara," tuturnya.
Baca Juga: Kementerian ESDM Kawal Komitmen Pelaku Tambang Pasok Kebutuhan Batu Bara Dia melanjutkan, selama cadangan batu bara milik PLN masih ada maka pemadaman listrik diperkirakan tidak akan terjadi. Namun jika cuaca buruk dan banjir terjadi lebih lama terutama di beberapa daerah pertambangan batu bara maka akan perlu ada antisipasi.
"PLN harus mengantisipasi. Dalam membuat perkiraan di tahun depan juga harus memperhitungkan adanya cuaca buruk," ungkapnya.
(fai)