JAKARTA - Presiden
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, bahwa pihaknya menentang keras apabila
THR (Tunjangan Hari Raya) tahun 2021 dicicil. Dia mengatakan, pada tahun 2020, pihaknya memahami bahwa baik pengusaha dan buruh sama-sama terimbas.
Akan tetapi, dia mengingatkan bahwa banyak buruh yang ter-PHK dan THR-nya masih ada yang belum dibayar lunas. Hal ini kemudian mengurangi daya beli masyarakat.
"Ini kan akhirnya purchasing power-nya berkurang, dan akibatnya juga menjadi resesi ekonomi," ucap Said dalam IDX Channel Market Review Live di Jakarta, Senin (22/3/2021).
Baca Juga: Ketika Pengusaha Meminta Pengertian Pekerja Soal THR Dia menyampaikan, jika investasi, government expenditure, dan ekspor impor terganggu, maka penunjang satu-satunya adalah konsumsi. Seharusnya menurut Said, negara dan para pengusaha memperhatikan tingkat konsumsi dengan menjaga daya beli.
"
Bantuan subsidi upah (BSU) saja dihentikan tahun ini, tumpuan terakhir bagi yang masih bekerja dan dirumahkan adalah THR. Kalau masih dicicil juga, ya tidak bisa," terangnya.
Baca Juga: Tolak Wacana THR 2021 Dicicil, Serikat Pekerja Anggap Sangat Merugikan Said mengingatkan bahwa ekonomi puasa, lebaran, dan natal adalah ekonomi yang bisa melambungkan konsumsi. Maka dari itu, peran pemerintah penting dalam menjaga labour economy dalam momentum tersebut.
"Jaga daya belinya seperti apa? THR harus diberikan 100%, tidak boleh dicicil," tegasnya.
(akr)