TRENGGALEK - Sucipto, warga Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek tiba-tiba
mengamuk sekaligus menyerang keluarganya dengan sebilah sabit. Wardi, kakek Sucipto ditemukan tewas, dengan kepala dan leher penuh
luka bacok . Sedangkan orang tua Sucipto, yakni Maryono dan Juminem yang juga sempat
dibacok , selamat.
Baca juga: Bunuh Istri dan Kakak Ipar, Pria di Kalteng Diringkus Polisi Saat Dalam Pelarian "Dalam peristiwa
penganiayaan ini satu orang meninggal dunia," ujar Kasubag Humas Polres Trenggalek, AKP Bambang Purwanto kepada wartawan. Insiden penganiayaan satu keluarga tersebut berlangsung di dalam rumah. Entah apa yang terjadi, Juminem, ibu Sucipto tiba-tiba berlari keluar sembari histeris meminta tolong, karena
dibacok anaknya.
Melihat itu, Maryono langsung bergegas mendatangi istrinya. "Suaminya (Maryono) berusaha melerai," kata Bambang. Situasi bukanya mereda. Sucipto malah
semakin kalap . Maryono, yang notabene ayahnya juga diserang. Maryono juga
terluka bacok . Situasi di lingkungan tempat tinggal mereka, Selasa (23/3/2021), sontak heboh.
Baca juga: Memalukan, Jadi Pemicu Aksi Brutal di Kongres HMI XXXI, 6 Peserta Diringkus Polda Jatim Warga pun berdatangan. Dibantu sejumlah warga, petugas yang tiba di lokasi kejadian, langsung mengamankan Sucipto. Karena mengalami
luka bacok di bagian kepala, kedua orang tua Sucipto langsung dilarikan ke puskesmas. Sementara saat pengecekan di dalam rumah, Wardi, kakek Sucipto
ditemukan tewas di kamarnya.
Laki-laki berusia 74 tahun tersebut mengalami
luka bacok di bagian kepala dan leher. "Korban meninggal dunia ditemukan di kamarnya," terang Bambang. Sementara, keterangan yang diperoleh petugas, Sucipto memiliki riwayat sakit jiwa. Kondisi jiwanya dinyatakan terganggu sejak tahun 2019, dan sejak itu tidak berhenti mengonsumsi obat.
Baca juga: Tangis Pecah Saat Bayi 3 Tahun yang Tewas Tenggelam di Maros Dimakamkan Hanya saja gangguan jiwa yang dialami Sucipto bersifat gangguan. Menurut Bambang, pihaknya masih mengembangkan penyelidikan. Yakni, terutama terkait motif penganiayaan yang dilakukan. "Dalam hal ini kita juga melibatkan petugas medis untuk memastikan
kondisi kejiwaan pelaku," pungkas Bambang.
(eyt)