BADUNG - Tidak ada kunjungan wisatawan, serta penutupan sejumlah tempat akomodasi wisata, membuat para pekerja pariwisata di Bali, kelimpungan. Mereka dipaksa memutar otak untuk tetap dapat bertahan hidup, di tengah
pandemi COVID-19 .
Baca juga: Pelajar SD dan SMP Bantu Teman Sebaya yang Terdampak COVID-19 Tak ingin mengeluh dan berpangku tangan menanti bantuan. Komang Gede Suastika, salah seorang pekerja hotel bintang lima di kawasan Kuta, Kabupaten Badung, Bali, justru berani berubah dengan
banting stir berjualan kopi ala coffee shop di pinggir jalan.
Anjloknya sektor pariwisata di Bali, sebagai
dampak pandemi COVID-19 yang berkepanjangan, membuat sejumlah hotel untuk sementara harus merumahkan hampir seluruh karyawannya. Untuk tetap dapat memenuhi pundi-pundi pendapatan keluarga, para pekerja pariwisata pun terpaksa mencoba peruntungan dengan menekuni bidang lain.
Baca juga: Memilukan, Anak-anak Pejuang Kemerdekaan Ini Puluhan Tahun Tinggal di Bunker Belanda Komang Gede Suastika mengaku, selama
pandemi COVID-19 ini, hanya bekerja tiga hari dalam sebulan di hotel bintang lima tempatnya menggantungkan hidup selama ini. Kondisi ini membuat penghasilan karyawan bidang purchasing ini menjadi tidak seberapa.
Dalam kondisi serba sulit, tidak membuat Komang Gede Suastika berdiam diri. Pria kelahiran Kuta ini, bahkan termotivasi berinovasi agar tetap bertahan dimasa
ekonomi sulit seperti sekarang.
Baca juga: Mayat Lelaki Misterius Tergeletak di Toilet Umum Kawasan Wisata Kuliner Sukabumi Bermodal uang tabungan sekitar Rp1,8 juta, dia memodifikasi sepeda kesayangannya. Untuk mewujudkan impian memiliki mini coffee shop keliling, Komang Gede membuat boks yang menjadi tempat menaruh berbagai perlengkapan
berjualan kopi di sepeda.
Sementara, kemampuan
meracik kopi dipelajari secara otodidak dari menonton video-video yang ada di Youtube. Setelah seluruh peralatan berjualan ditempatkan di dalam boks, kini saatnya Komang Gede Suastika menggenjot sepeda menuju kawasan Jalan Raya Pantai Kuta.
Tempat tersebut dipilih sebagai
tempat berjualan , karena jelang sore hari banyak warga yang nongkrong atau berolahraga di sekitar kawasan tersebut. Kopi yang ditawarkannya pun bervariasi layaknya kopi yang tersedia di coffee shop, mulai dari cappucino, latte, espresso, kopi tubruk, hingga kopi susu ala vietnamese coffee.
Karena
berjualan di jalanan , harga yang ditawarkan untuk segelas kopi hanya dibanderol Rp5 ribu-8 ribu. "Harganya bergantung jenis kopinya. Meski harga yang ditawarkan cukup murah, biji kopi yang digunakan tetap berkualitas. Kopinya berasal dari Kintamani," terangnya.
Baca juga: Darah Tertumpah di Bandung Utara, Kisah Kegelisahan Trio Sersan saat Diminta Melucuti Senjata Meski bukan barista profesional, Komang Gede Suastika dengan cekatan menimbang biji-biji kopi untuk diolah menggunakan alat kopi manual brew. Biji kopi yang telah menjadi bubuk, kemudian
diseduh dengan air panas hingga menghasilkan sari kopi terbaik untuk dinikmati.
Walaupun dalam sehari keuntungan yang diperoleh hanya berkisar Rp30 ribu-35 ribu, Komang Gede Suastika mengaku
tetap bersyukur , karena dimasa sulit seperti sekarang dirinya tetap memiliki pemasukan yang memadai untuk menutup kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Baca juga: Robek Bendera Merah Putih dan Bikin Warga Resah, 7 Anak-anak di Gunungkidul Diringkus Polisi Di tengah himpitan keterpurukan ekonomi, Komang Gede Suastika berharap pandemi COVID-19 bisa segera berakhir, sehingga sektor
pariwisata segera pulih dan mampu menjadi penopang perekonomian masyarakat Bali.
"Jika suatu saat kondisinya telah normal, dan kembali beraktivitas di hotel. Saya akan tetap melanjutkan usaha mini coffee shop yang saat ini sedang dirintis, karena berkat usaha kopi keliling inilah keluarga saya bisa tetap bertahan dari goncangan ekonomi akibat
pandemi COVID-19 ," pungkasnya.
(eyt)