WARSAWA - Seorang
turis asal
Belanda ditahan oleh polisi dan didenda setelah memberi hormat
Nazi di gerbang bekas kamp konsentrasi Auschwitz-Birkenau di
Polandia .
Turis perempuan berusia 29 tahun itu ditangkap pada hari Minggu dan didakwa mempromosikan Nazisme, menurut sebuah pernyataan dari polisi setempat yang diterbitkan pada Senin.
"Dia melakukan salam Nazi sambil berpose untuk foto yang diambil oleh suaminya di depan gerbang terkenal dengan tulisan 'Arbeit Macht Frei'," kata polisi seperti dikutip dari
CNN, Rabu (26/1/2022).
Penjaga dari Museum Auschwitz melaporkan perempuan itu, dia kemudian ditangkap dan ditahan. Suaminya (30) diperiksa sebagai saksi, dan wanita itu mengaku bersalah mempromosikan Nazisme, tambah polisi.
Baca juga: Anggota Parlemen Republik Bandingkan Kartu Vaksin Covid dengan Nazi Jerman "Perempuan itu mengatakan kepada polisi bahwa memberi hormat itu hanya lelucon yang dianggap tidak baik," kata seorang juru bicara polisi kepada CNN, membenarkan turis perempuan itu telah didenda oleh Jaksa Distrik di Krakow.
Di bawah hukum Polandia, menurut pernyataan polisi, perempuan itu bisa menghadapi hukuman penjara hingga dua tahun.
"Penghormatan Nazi dikaitkan dengan penderitaan manusia yang mengerikan dan dipenuhi dengan penghinaan dan kebencian," kata juru bicara Museum Auschwitz kepada CNN dalam sebuah pernyataan.
"Meskipun seharusnya tidak ada sama sekali di ruang publik, menggunakannya di lokasi bekas kamp tidak dapat diterima. Itu tidak menghormati semua korban kamp," bunyi pernyataan itu.
Baca juga: Tampilkan Bankir Serakah di Harry Potter, JK Rowling Dituduh Anti-Semit "Kami berharap reaksi segera dari keamanan Memorial akan menjadi peringatan bagi semua orang yang akan mempertimbangkan untuk menggunakan situs Memorial sebagai panggung untuk manifestasi memalukan seperti itu," lanjutnya.
Michael Schudrich, kepala rabi Polandia, mengatakan tindakan museum itu telah benar dengan memanggil polisi.
"Paling tidak yang bisa kita lakukan untuk menghormati ingatan semua orang yang terbunuh oleh rezim Nazi Jerman adalah tidak menoleransi fasisme, kebencian, dan xenofobia," kata Schudrich kepada CNN.
"Dan kita tidak bisa mengabaikan ini sebagai lelucon yang buruk. Bahkan denda simbolis adalah pesan untuk orang lain," ia menambahkan.
Baca juga: Kesalahan Bos Intel AS Bantu Nazi Sebarkan Hoaks Auschwitz-Birkenau, didirikan di Polandia yang diduduki Nazi, adalah kamp konsentrasi terbesar yang dijalankan oleh rezim Hitler. Lebih dari 1,1 juta pria, perempuan dan anak-anak dibunuh secara sistematis di sana, banyak dilakukan di kamar gas. Sekitar 6 juta orang Yahudi terbunuh dalam tragedi Holocaust.
Kompleks kamp telah diubah menjadi museum dan situs peringatan yang terbuka untuk pengunjung.
Pada bulan Oktober, grafiti anti-Semit ditemukan disemprotkan di barak kayu di lokasi tersebut dalam bahasa Inggris dan Jerman. Staf dari museum mengecam insiden itu sebagai "serangan keterlaluan" di situs peringatan itu.
Dan pada Agustus 2020, Auschwitz Memorial mengkritik tren di TikTok di mana anak-anak muda menggambarkan diri mereka sebagai korban Holocaust, dengan mengatakan bahwa video itu bisa menyakitkan dan menyinggung.
Baca juga: Jengkel, Pejabat Rusia Bandingkan Kelompok Anti Vaksin dengan Hitler
(ian)