SEOUL - Media di Korea Selatan mencoba menganalisis alasan HYBE dan Source Music hingga kini tetap mempertahankan Kim Garam sebagai
member LE SSEARFIM.
Padahal, HYBE juga sudah mengakui bahwa
idol K-pop yang baru debut itu melakukan perisakan saat masih sekolah. Agensi manajemen ini sudah mengonfirmasi kebenaran pernyataan Kementerian Pendidikan Korea Selatan bahwa Kim Garam menerima hukuman tingkat 5 sebagai pelaku kekerasan di sekolah.
Meski begitu, HYBE membantah bahwa ada kekerasan fisik dalam kasus tersebut. Mereka juga mengatakan bahwa keputusan hukuman bisa berbeda-beda dalam setiap sekolah atau wilayah.
Selain itu, mereka juga membela diri dengan mengatakan bahwa Kim Garam hanya membela teman sekolah yang lebih dulu dilecehkan oleh murid yang menuduh Garam sebagai pelaku perisakan. Walaupun begitu, tuduhan perisakan oleh Kim Garam juga muncul dari beberapa pihak yang berbeda dalam kasus yang berbeda pula.
Karena pembicaraan yang semakin panas, HYBE dan Source Music sebagai label musik grup LE SSEARFIM akhirnya memutuskan Kim Garam menjalani hiatus per 21 Mei 2022 setelah debut pada 2 Mei lalu.
Pada 22 Mei, LE SSERAFIM pun secara resmi tampil tanpa Kim Garam dalam program musik
Inkigayo di SBS. Yang menarik, justru tanpa Garam, penampilan kelima
member, yaitu Sakura Miyawaki, Kim Chae-won, Huh Yun-jin, Kazuha, dan Hong Eun-chae dibanjiri pujian oleh netizen.
Karena itulah, media Korea
Newsis mencoba menganalisis alasan HYBE dan Source Music begitu ngotot mempertahankan Kim Garam yang ditengarai bisa melukai reputasi LE SSERAFIM yang baru saja memulai kariernya dalam industri K-pop. Berikut dua dugaan alasan yang diungkap media tersebut.
1. HYBE dan Source Music Diduga Sudah Menyiapkan Konsep untuk Enam Member
Foto: SoompiDua agensi ini diduga telah menyiapkan rencana strategis dan aktivitas untuk grup berisi
enam member, sesuai jumlah asli anggota LE SSERAFIM. Jika
member berkurang satu orang, maka mereka harus merombak ulang segala rencana yang sudah disusun sejak awal.
"Kalau kurang satu orang, maka
masterplan yang sudah dibuat akan
error, merusak rencana awal. Selain itu, usaha HYBE untuk mendebutkan Kim Garam juga sudah mengeluarkan banyak uang," tulis
Newsis.
Baca Juga: Perbedaan dan Persamaan Top Gun: Maverick dengan Film Pertamanya 2. Kasus Kim Garam Bisa Jadi Terlalu Dibesar-besarkan
Foto: Source MusicHYBE sudah meminta maaf atas kekerasan yang dilakukan Kim Garam saat sekolah. Kim Garam pun telah menjalani hukumannya karena kasus tersebut. Namun HYBE tetap membantah bahwa anak asuhnya itu melakukan kekerasan fisik.
Sementara itu, tulis
Newsis, beberapa kasus tuduhan perisakan atau kekerasan yang melibatkan selebritas terbukti palsu. Misalnya saja yang terjadi pada mantan
member Wanna One Park Jihoon pada 2017.
Saat itu, seorang pengacara bernama Ko Seung-woo menulis di blognya bahwa ia mengalami perisakan oleh Jihoon saat SMP. Namun setelah polisi melakukan investigasi, ternyata tuduhan itu tidak benar, dan Jihoon serta Seung-woo sebenarnya tidak pernah bertemu.
Atas dua alasan tersebut - bahwa Kim Garam telah menerima hukuman dan bisa jadi tuduhan (lainnya) palsu - maka HYBE bisa jadi menilai bahwa Kim Garam berhak diberikan kesempatan kedua.
"Jika desas-desus kasus Kim Garam dibesar-besarkan, keinginan untuk menghukum Garam seumur hidup atas kesalahan yang dibuatnya pada masa remaja tentu terlalu kejam untuknya," tulis
Newsis.
Baca Juga: 9 Skandal K-Pop Terbesar dalam Sejarah, Terbaru Kim Garam Meski begitu, lanjut
Newsis, perlu juga melihat dari sudut panjang korban yang menderita. Karena itulah kasus Kim Garam harus dipertimbangkan dan diputuskan secara hati-hati.
"Kita harus terlebih dahulu menentukan apakah kesalahan Kim Garam bisa dimaafkan oleh publik. Meski (ia) sudah mendapat hukuman secara legal, tapi kita harus yakin bahwa korban mendapatkan keadilan," imbuh
Newsis.
"Hal yang sama berlaku juga untuk Kim Garam. Kalau kamu melakukan kesalahan, maka kamu harus bertanggung jawab. Setelah itu, kita lihat apakah dia bisa aktif kembali atau tidak".
(ita)