SEIRING berkembangnya teknologi, ada aspek lain yang terus tumbuh dan berkembang, yaitu
e-commerce dan juga maraknya perusahaan
financial technology (fintech). Hal ini menggeser kebiasan masyarakat dalam melakukan transaksi pembayaran, di mana pembayaran tunai beralih menjadi pembayaran digital atau yang biasa disebut
cashless, yang merupakan pengaruh dari meningkatnya penetrasi internet dan adopsi konsumen digital.
Pembayaran digital juga membuka sektor transportasi, layanan pengiriman makanan, transportasi
online, dan media
online untuk mengadopsi sistem transaksi digital. Seiring meningkatnya transaksi digital, perusahaan fintech memiliki kesempatan baru untuk melebarkan sayapnya dalam menghadirkan fasilitas
paylater.
Baca berita menarik lainnya di e-paper koran-sindo.com Aplikasi paylater terus meningkat cukup signifikan di Indonesia beberapa tahun belakangan. Peminat aplikasi paylater di Indonesia tumbuh sekitar 45% dalam satu tahun terakhir. Meningkatnya aplikasi
paylater ini didasari beberapa alasan. Pertama, ekosistem bisnis
paylater di Indonesia yang terus tumbuh.
Terhitung saat ini ada belasan perusahaan fintech yang menyediakan solusi tersebut dengan beragam keunikan. Faktor kedua, aplikasi
paylater telah terintegrasi ke berbagai layanan digital yang memiliki basis konsumen tinggi seperti
e-commerce, online travel dan lain-lainnya. Faktor ketiga, semakin menurunnya penetrasi kartu kredit sebagai opsi yang biasanya digunakan untuk pembayaran berangsur-angsur beralih ke layanan digital.
Aplikasi
paylater atau sering disebut juga dengan
buy now pay later (BNPL) merupakan jenis pembiayaan jangka pendek yang memungkinkan konsumen melakukan pembelian dan membayarnya di masa mendatang. Pembayaran tersebut bisa diangsur 1x sampai beberapa kali dalam rentang bulanan. Seiring perkembangannya, saat ini aplikasi paylater juga bisa digunakan di sejumlah
offline merchant, menggantikan fungsi kartu kredit.
Lalu, bagaimana ekosistem aplikasi
paylater di Indonesia? Berdasarkan laporan Research and Market, nilai pasar layanan
paylater di Indonesia telah mencapai USD1,5 miliar pada 2021, dan akan mengalami pertumbuhan hingga USD9,2 miliar pada 2028 dengan CAGR 29,2%.
Dengan kesempatan pertumbuhan yang sangat besar, beberapa pemain mencoba mengakomodasi kebutuhan tersebut. Bahkan beberapa perusahaan merupakan pemilik platform konsumen. Misalnya yang dilakukan Gojek melalui Gopaylater, Shopee melalui SPayalter, dan Traveloka Paylater.
Sejumlah keunggulan layanan bayar tunda di antaranya fleksibilitas pembayaran cicilan, proses pendaftaran yang cepat. Di sisi lain, kenaikan beberapa harga bahan pokok dan bahan bakar minyak yang sejalan dengan inflasi juga turut mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan
paylater.
Di tengah peluang pasar dan adopsi aplikasi
paylater yang masih besar di Indonesia, ada sejumlah tantangan yang masih dihadapi oleh para penyelenggara platform. Hingga saat ini belum ada aturan jelas terkait industri pembiayaan berbasis
paylater. Selain itu, otoritas yang berwenang juga belum secara tegas mengatur tentang pengawasan penggunaan
paylater. Padahal, sebagaimana diketahui, dunia digital juga mengandung potensi kerawanan.
(bmm)