JAKARTA - Laksamana Muda TNI Mas Pardi merupakan pendiri TNI AL dan
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) pertama. Mas Pardi juga pengembang ilmu pelayaran nasional dan turut serta menjadi delegasi Indonesia pada Sidang Hukum Laut Internasional di Jenewa tahun 1958.
Dikutip dari Instagram tni_angkatan_laut, Jumat (6/1/2023), namun perjuangan Mas Pardi dalam membesarkan bidang maritim di Tanah Air tidak banyak dikenal masyarakat Indonesia.
Karenanya, Dinas Sejarah Angkatan Laut (Disjarahal) terus mencoba mengangkat ketokohan maritim sang KSAL Pertama itu, agar bisa memberikan inspirasi bagi pembangunan nasional berbasis maritim dengan mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.
Dari catatan sejarah, Mas Pardi merupakan sosok kelahiran 1 Oktober 1901 dikenal sebagai Bapak Pelayaran Indonesia. Dia merupakan pionir pendiri, sekaligus pemimpin dari Badan Keamanan Rakyat (BKR) Laut yang dibentuk pada 10 September 1945, kemudian berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
BKR Laut ini terdiri dari para pelaut veteran yang pernah bertugas di jajaran Koninklijke Marine atau Angkatan Laut Kerajaan Belanda dan Kaigun (Angkatan Laut Kekaisaran Jepang).
Mas Pardi Pelaut SeniorPada eranya, Mas Pardi termasuk pelaut senior. Dia sudah aktif di pelayaran sejak masa penjajahan Belanda. Pada 1942 Mas Pardi melanjutkan kariernya ke Sekolah Pelayaran Tinggi (SPT) yang dibentuk oleh Kaigun (Angkatan Laut Jepang), saat ini Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang.
Baca juga: 5 KSAL Termuda Sepanjang Sejarah, Nomor Terakhir Usia 31 Tahun Kala itu murid-muridnya yang dikenal adalah Sudomo, Ali Sadikin, RE Martadinata, hingg Yos Sudarso. Mas Pardi yang lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, menjadi instruktur untuk para pelaut muda tersebut.
Sejalan dibubarkannya BKR oleh Presiden Soekarno pada 1949 yang kemudian berganti nama menjadi TKR, basis laut tetap juga dibentuk. Setelah merampungkan keorganisasian TKR Laut, Mas Pardi yang saat itu sudah masuk usia sepuh, kemudian digantikan oleh Mohammad Nazir sebagai pucuk pimpinan badan pertahanan matra laut.
BKR Menjadi TKRLambat laun, nama TKR Laut lebih dikenal dengan sebutan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Selama Tahun 1949 sampai dengan 1959 ALRI berhasil menyempurnakan kekuatan dan meningkatkan kemampuannya.
Di bidang Organisasi ALRI membentuk Armada, Korps Marinir yang ketika itu masih disebut sebagai Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL), Penerbangan Angkatan Laut dan sejumlah Komando Daerah Maritim sebagai komando pertahanan kewilayahan.
Baca juga: 6 Wakasal yang Berhasil Naik Jabatan Menjadi KSAL Sepanjang Sejarah TNI AL Mas Pardi wafat di Semarang, Jawa Tengah karena sakit dalam usia 66 tahun. Makam beliau dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang, Jawa Tengah pada tahun 2012.
TNI AL Dipimpin Pati Bintang 4Kini, TNI AL dipimpin oleh dua perwira tinggi (Pati). Pertama, pati bintang empat disebut Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) dengan pangkat Laksamana dan Pati bintang tiga dengan pangkat Laksamana Madya. Saat ini didapuk sebagai KSAL adalah Laksamana TNI Muhammad Ali
Kekuatan TNI AL terbagi dalam tiga Komando Armada (Koarmada). Pertama yaitu, Koarmada I yang berpusat di Jakarta Pusat, Koarmada II yang berpusat di Surabaya, dan Koarmada III yang berpusat di Sorong.
Selain itu, adapula Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Pusat Hidro Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal), dan Korps Marinir. Sebagaimana di matra lainnya, kepangkatan TNI AL terdiri dari Perwira, Bintara dan Tamtama.
Adapun pangkat tertinggi di TNI AL adalah Laksamana Besar dengan bintang lima. Pangkat ini ditandai dengan lima bintang emas di pundak. Dimana, pangkat tersebut setara dengan Jenderal Besar di TNI AD.
Doktrin Jalesveva JayamaheTNI AL juga memiliki dokrin Jalesveva Jayamahe berasal dari bahasa Sansekerta yang secara harfiah tertulis Jalesveva Jayamahe. Jalesveva terdiri dari tiga bagian yaitu jalesu, eva, jayâmahe.
Jalesu berasal dari akar kata jala yang berarti air/laut (kata jala mendapat kasus nominatif, pluralis, netrum menjadi jalesu). Jalesu dibubuhi garis pendek di bawah huruf S atau S cerebral dengan maksud membedakan huruf S dengan huruf lain yang akan membawa pengertian lain.
Kemudian, Eva atau Iva adalah kata sambung (konjungsi) yang berarti 'bahkan' dan Jayamahe (perubahan bentuk bagi orang pertama jamak) yang berarti Kami Menang. Secara keseluruhan berarti 'Justru di Lautan Kita Menang' atau 'Kejayaan Kita Ada di Laut'.
Adapun jiwa dan semangat doktrin TNI AL 'Eka Sasana Jaya' yang lalu tetap digunakan, sebagai landasan perjuangan TNI AL dimasa sekarang, maupun masa yang akan datang. Sebagai bagian dari TNI, maka doktrin TNI AL Jalesveva Jayamahe berkedudukan di bawah doktrin TNI Tri Dharma Eka Karma.
(maf)