CIREBON - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Nurjati Cirebon, Prof Didin Nurul Rosyidin menyatakan politik
adu domba atau pecah belah berbasis agama dimedia sosial (medsos)sering dimanfaatkan kelompok ekstrem. Sehingga harus diwaspadai karena aksi itu untuk mendelegitimasi pemerintah dan ulama moderat.
Didin menilai, strategi ini kerap digunakan oleh
kelompok radikal untuk menyasar generasi muda guna menyebarkan propaganda dan pengaruhnya. Hal ini muncul sebagai respons atas penangkapan anggota jaringan kelompok yang terafiliasi ISIS di Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada awal Oktober 2025.
Baca juga: Presiden Prabowo: Jangan Kita Mau Terus Diadu Domba Ia mengatakan biasanya kelompok ekstremis-jihadis ini membawa narasi penyederhanaan dunia yang dinamis menjadi realitas biner, laiknya hitam-putih atau surga-neraka. Atas dasar itu, siapapun yang tidak sejalan dengan mereka, termasuk pemerintah, para ulama moderat, bahkan keluarga sekalipun, akan dianggap sebagai musuh yang harus dilawan.
“Dunia dibagi secara sederhana menjadi kita dan mereka, kawan dan musuh,” ujar Didin di Cirebon, dikutip Minggu (18/10/2025).
Didin yang merupakan alumni dari Universitas Leiden, Belanda ini mengungkapkan ancaman terbesar dari propaganda dan adu domba ini adalah rusaknya fondasi kebangsaan negara. Sehingga akan meruntuhkan sistem kenegaraan dan mengakibatkan perpecahan antar anak bangsa.
Dia mengungkapkan, rongrongan ini kerap dieksploitasi dan dimanipulasi dengan bumbu ayat-ayat suci. Misalnya membenturkan Pancasila dengan dalil agama dan menganggapnya sebagai produk manusia yang tidak sebanding dengan wahyu Tuhan. Padahal hal ini bukanlah hal yang patut disandingkan.
Baca juga: Prabowo Ingatkan Sejarah Indonesia Selalu Diadu Domba dan Dipecah Belah “Itulah mengapa gerakan-gerakan radikal teroris terus mempersoalkan Pancasila agar sendi (fondasi) utamanya benar-benar hancur,” ujarnya.
Menurut dia, ada dua faktor sosial-politik yang menjadi alasan utama mengapa propaganda ini kerap berhasil mempengaruhi anak muda. Pertama, kegagalan dalam pendidikan kurikulum agama dalam memberikan pengetahuan dan pengalaman beragama.
Hal itu lantaran masih banyak ustadz dan kyai yang lebih memfokuskan pada akumulasi pengetahuan agama tentang masa lalu dan bukan memfokuskan bagaimana beragama untuk masa depan. Akibatnya, pelajaran agama menjadi semakin kehilangan relevansinya bagi anak muda.
Kemudian, lanjut Didin, berkembangnya teknologi dan munculnya budaya popular dalam beragama juga mempengaruhi kerentanan anak muda. Di mana agama diukur dengan sebuah viralitas dan kepopuleran yang sifatnya instan dan tidak sustainable.
Siapa pun yang bisa mengendalikan budaya pop beragama, lanjut Didin, maka model beragama itulah yang menarik anak muda. Sehingga masyarakat, khususnya anak muda gagal menemukan esensi beragama yang benar. Karena itu beragama harus didasarkan pada pengetahuan yang memadai agar tidak terjebak pada hal-hal aksesoris dan melupakan esensinya sebagai rahmat untuk semesta alam.
“Golongan anak muda yang berfikir instan, minim pengetahuan dan penghayatan agama menjadi sasaran empuk untuk segala bentuk propaganda termasuk pada bidang agama,” tandas Didin.
Dia mengungkapkan bahwa tidak ada solusi tunggal untuk bisa menangkal propaganda yang meluas di era digital ini. Diperlukan kerjasama multipihak untuk bersama-sama membangun ekosistem religiusitas yang positif.
Selain itu, Didin menekankan, perlunya ruang dialog antar umat beragama untuk mengikis perbedaan, dan rasa curiga demi membangun persatuan dan kesatuan bangsa.
“Di sinilah perlunya ruang dialog yang terbuka dan jujur tanpa penghakiman untuk bisa menarik anak-anak muda untuk tertarik dan terlibat dalam kajian keagamaan,” ujarnya.
(shf)